Berita Terbaru

BIMA ARYA HADIRI SIDANG SENAT UNPAK

BOGOR-BIDIKNEWS.COM
Risk taker. Kata-kata ini populer termasuk di kalangan orang-orang muda yang disebut kaum milenial sekarang ini. Lawannya adalah risk avoider. Risk taker adalah orang yang berani mengambil risiko, dan oleh sebab itu berpikir lebih kreatif, dan melakukan langkah-langkah pengaman, sedang risk avoider adalah orang yang memilih hidup dalam zona nyaman dan oleh sebab itu suka menyalahkan keadaan dan apatis.

Jadilah seorang risk taker bukan risk avoider. Demikian inti nasihat Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto di hadapan 569 wisudawan dan wisudawati Universitas Pakuan Bogor saat menghadiri Sidang Terbuka Senat Universitas Pakuan dalam rangka wisuda program Doktor, Magister, Sarjana dan Diploma gelombang III di Brajamustika Convention Hall, Kota Bogor, Selasa (28/8/2018).

Bima mengawali dengan menyinggung makna Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang kerap menjadi fokus mahasiswa dan sarjana karena dijadikan indikator kecerdasan intelektual. IPK kecerdasan intelektual memang penting. Tapi ada yang jauh lebih penting dari sekedar nilai akademik atau kecerdasan intelektual, yakni kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial.

“IPK atau kecerdasan intelektual memang penting, tapi bukan yang terpenting. Kecerdasan intelektual hanya menjadi bagian dalam kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial. Terlalu banyak contoh di muka bumi ini, orang yang nilai akademiknya bagus kalah bersaing dengan orang yang kecerdasan spiritual dan sosialnya mumpuni,” kata Bima yang  meraih gelar Doktor Ilmu Politik dari Australian National University Canberra, Australia.

Jangan salah persepsi. Bukan berarti IPK tinggi tidak ada artinya. Yes, IPK tinggi menunjukan kita mampu dalam belajar. Tapi sekali lagi, itu hanya pijakan awal. Satu hal yang ingin saya pesankan, jadikanlah risiko sebagai sahabat. Karena di titik ini adalah pertarungan melawan risiko dan cobaan. Orang-orang hebat adalah orang-orang yang berani mengambil risiko,” tambahnya.

Bima mengutip ucapan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali yang mengatakan, “Barang siapa yang tidak berani mengambil risiko maka ia tidak akan pernah mencapai apa pun dalam hidupnya.”

“Semua perlu keberanian untuk mengambil risiko. Bukan karena kecerdasan ide atau kehebatan gagasan, tapi diperlukan keberanian untuk memutuskan itu semua. Jangan takut  gagal, karena kegagalan adalah jembatan emas menuju kejayaan. Pengalaman adalah jalan besar menuju kemenangan,” katanya.

Bima berharap, setelah wisuda ini dirinya ingin melihat para kawula muda mudah menyerah menghadapi segala risiko dan tantangan. Ia menilai, Bung Karno tidak menyerah walau dipenjara berkali kali. Jendral Sudirman tidak menyerah walau harus bergerilya keluar masuk hutan dalam kondisi sakit. Mohammad Roem tak pernah menyerah dalam perundingan-perundingan dalam mempertahankan NKRI.

“Indonesia ada karena orang orang hebat yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk hal yang diyakininya. Orang-orang luar biasa yang berani ambil risiko. Hidup itu akan stuck karena terlalu lengah di zona nyaman. Jangan pernah menyerah,” kata Bima.

Pada bagian lain Bima menyinggung soal masa-masa sebagai masa-masa paling indah. “Ada yang percaya dan tidak. Saya termasuk orang yang percaya. Kenapa? Karena belum banyak masalah. Masalah hanya sebatas bayar uang kost, masalah ketika cinta di tolak, masalah di tugas-tugas skripsi. Namun kehidupan sesungguhnya akan kalian mulai hari ini. Selamat datang di dunia nyata,” kata Bima.

Hadir dalam acara wisuda tersebut Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Uman Suherman, Rektor Universitas Pakuan Bibin Rubini, para wakil rektor dan civitas Universitas Pakuan lainnya.

Pada acara wisuda tersebut juga turut diumumkan peraih IPK tertinggi, yakni Dinar Aulia dari program sarjana Fakultas Keguruan dengan IPK 3,98, lalu ada Yesiana Guci dari program diploma Manajemen Perpajakan dengan IPK 3,95 serta Kazwani dari program pascasarjana Manajemen Pendidikan dengan IPK 3,62.(EM)

Tidak ada komentar