Berita Terbaru

KETIKA NEGARA BERHUTANG KEPADA RAKYATNYA

BANTEN - (BIDIK NEWS). Keputusan pengadilan negeri jakarta pusat pada tanggal 18 februari 2009 terhadap perkara No.171/PDT.G/2008/PN.JKT.PST sangat tidak mendasar. Sungguh sangat kasihan kepada lima orang ahli waris almarhum Bapak Artip yang sudah dengan segala daya upaya untuk mengambil kembali uang yang di pinjam oleh negara RI.
www.bidiknusantara.com
Sebagai ahli waris yang memiliki kepercayaan dan kejujuran kepada pemerintah,bahwa dalam membayar hutang kepada siapapun hutang itu ,tidak ada istilah Kadaluwarsa ,dan kalau hal itu ada menurut pemerintah,namun kami sebagai ahliwaris bahkan almarhum orang tua kami yang meninggal pada usia 102 tahun ,belum pernah di beritahu bahwa uang yang di pinjamkan kepada pemerintah RI lewat obligasi pada tahun 1946 di Bank indonesia itu telah dinyatakan kadaluwarsa.
"Adakah orang atau lembaga yang berhutang atau menghutangkan bisa di bayar dengan kta kadaluwarsa?,mungkinkah pemerintah apabila meminjam uang kepada pihak lain yang di bayar dengan kata kadaluwarsa,papar omo ahli waris.
Pada pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945 ,pemerintah Indonesia sangat kesulitan keuangan oleh karena itu ,untuk mengurangi kesulitan negara dalam.hal keuangan maka pemerintah mengajak kepada masyarakat untuk dapat meminjamkan uangnya kpada pemerintah  melalaui obligasi lewat Bank indonesia.
"Adalah Artip warga bilangan Rangkas bitung Banten,turut tergerak hatinya dan mau meminjamkan uangnya.
Pada akhir hayatnya pada usia  102 tahun Bapak Artip yang hanya seorang petani dan peternak kerbau ,tergerak hatinya tanpa ada keraguan bahwa uangnya akan kadaluwarsa ,keyakinan seorang yang mencintai pemerintahnya ,maka kepercayaan itu tetap di pertahankan sampai pada akhir hayatnya ,walaupun pemerintah tidak pernah memberitahukan kepada orang yang bersangkutan maupun kepada ahli waris ,kapan pemerintah akan membayar obligasi tersebut.
Sepuluh tahun setelah almarhum tiada,lima orang anaknya,Apsah,Arpinah,Sarnah,khadijah,omo sumarmo sebagai ahli waris ,mencoba memberanikan diri untuk mengambil kembali.harta orang tuanya karena ini amanah  pada waktu wafat.,maka dengan susah payah ,para ahliwaris sepakat untuk meminta bantuan kepada salah seorang pengacara untuk menagih hutang tersebut kepada pemerintah RI.
Data -data asli bukti obligasi masih ada lengkap tapi sayang setelah kami melakukan penuntutan  agar uang almarhum tersebut  bisa kami terima kembali justru pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menolak perkara N0.171/PDT.G/2008/PN.JKT.PST dengan putusan di tolak karena kadaluwarsa .
Keputusan yang tidak manusiawi dan sungguh mengecewakan bagi ahli waris,mengapa pemerintah RI.c.q Menteri keuangan RI,cs begitu mudahnya memutuskan perkara tersebut dengan dalih yang tidak masuk akal.
Segelintir Rakyat Indonesia (Almarhum Bapak Artip) sudah dengan rasa jujur dan cinta tanah air,mau mengorbankan anak-anaknya untuk tidak dapat sekolah karena uangnya dipinjamkan kepada pemerintah ,pada saat cucu nya memerlukan ,tetapi tidak di kabulkan.
Kami ahli waris mohon hal ini dapat di baca dan di pahami serta dicarikan jalan keluarnya,kepada Bapak Presiden benarkah pemerintah sudah menyatakan kadaluwarsa terhadap pembayaran kembali hutang-hutang negara kepada rakyatnya sendiri.(ingat perjuanganya).
Tolong Bapak Presiden ,kami ahli waris ini hanya rakyat desa di daerah kab lebak Banten ,uang hanya sebesar f300 di tahun 1946 ,dan entah berapa untuk harga rupiah saat ini.
Kami adalah ahli warisnya yang tinggal tulang-tulang berserakan ,tanpa mengenyam pendidikan karena harta orang tua kami telah semuanya di pinjamkan kepada pemerintah ,semoga indonesiaku jaya sentausa dan berkeadilan.harapnya..
Oleh : Endang Mahendra

Tidak ada komentar